Memenuhi Hak Belajar Anak dan Memberikan Motivasi
Memenuhi Hak Belajar Anak dan Memberikan Motivasi ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 3 Dzulqo’dah 1447 H / 20 April 2026 M.
Kajian Tentang Memenuhi Hak Belajar Anak dan Memberikan Motivasi
Sangat disayangkan, tidak sedikit orang tua yang terkesan mengabaikan hak tersebut. Terdapat berbagai penyebab mengapa orang tua tidak memenuhi hak belajar anak, di antaranya adalah karena ketidaktahuan, ketidakmampuan, atau ketidakpedulian.
Faktor Penyebab Terlantarnya Pendidikan Anak
- Ketidaktahuan. Banyak orang tua yang tidak mengetahui bahwa salah satu kewajiban utama mereka adalah mendidik anak. Hal ini terjadi karena mereka tidak membekali diri dengan ilmu sebelum memasuki jenjang pernikahan. Menjadi seorang ayah atau ibu yang baik membutuhkan persiapan ilmu yang matang. Tanpa modal ilmu, sering kali terjadi perceraian atau pendidikan anak menjadi terlantar. Anak seolah-olah tidak memiliki orang tua karena ketiadaan bimbingan di rumah.
- Ketidakmampuan. Sebagian orang tua sadar akan kewajiban mendidik, namun mereka tidak mampu melaksanakannya. Ketidakmampuan ini bisa disebabkan oleh kesibukan bekerja sehingga waktu untuk anak tersita habis, atau karena keterbatasan ilmu pada diri orang tua itu sendiri. Seseorang tidak akan bisa memberikan apa yang tidak ia miliki. Orang tua tidak mungkin mengajarkan Al-Qur’an jika mereka sendiri belum mampu membacanya.
- Ketidakpedulian. Ini adalah faktor yang paling memprihatinkan. Ada orang tua yang memiliki pengetahuan dan waktu luang, namun mereka justru abai. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu dengan ponsel daripada memperhatikan perkembangan anak. Orang tua tipe ini bersikap acuh tak acuh terhadap kewajiban shalat anak, cara berpakaian anak dalam menutup aurat, hingga kemampuan membaca Al-Qur’an. Fenomena ini menciptakan kondisi anak-anak yang seolah yatim piatu padahal kedua orang tua mereka masih hidup.
Pertanggungjawaban di Hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala
Kondisi terlantarnya pendidikan agama anak adalah hal yang sangat menyedihkan. Setiap orang tua harus menyadari bahwa kelak di hari kiamat, akan ada pertanggungjawaban besar di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mempertanyakan apakah anak-anak sudah melaksanakan shalat, apakah mereka sudah menutup aurat dengan benar, dan apakah mereka sudah mampu membaca Al-Qur’an. Segala bentuk pengabaian terhadap hak belajar anak akan dimintai pertanggungjawabannya secara mendalam.
Setiap orang tua harus siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai amanah anak. Persiapan tersebut dilakukan dengan memahami tata cara mendidik anak dan berusaha sekuat tenaga untuk menunaikan kewajiban tersebut.
Pembahasan mengenai fikih pendidikan anak ini telah berlangsung selama kurang lebih lima belas tahun, sejak tahun 2010 hingga 2026. Proses belajar yang berkesinambungan ini bertujuan agar kelak proses hisab di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla menjadi mudah. Saat Allah ‘Azza wa Jalla bertanya apakah anak-anak sudah melaksanakan shalat, orang tua minimal dapat menjawab bahwa mereka telah mengajak dan berusaha terus-menerus. Urusan hidayah dan apakah anak tersebut pada akhirnya mengerjakan shalat adalah wewenang Allah Subhanahu wa Ta’ala, sementara kewajiban orang tua adalah mengajak dan mendidik.
Pertama: Menjelaskan Keutamaan Belajar Ilmu Agama
Sering kali terdapat anggapan bahwa menyekolahkan anak di pondok pesantren sangat mahal, padahal kebutuhan anak saat berada di rumah terkadang justru lebih besar dan sulit dikontrol. Oleh karena itu, diperlukan motivasi yang kuat agar orang tua dan anak rela memberikan pengorbanan terbaik demi meraih ilmu agama.
Menghapus Persepsi Negatif terhadap Pendidikan Agama dan Keuntungan di Dunia
Masih terdapat persepsi di masyarakat bahwa menuntut ilmu agama, seperti masuk ke pondok pesantren, identik dengan masa depan yang tidak jelas. Dahulu, terdapat anggapan bahwa anak yang memiliki nilai akademis tinggi lebih baik masuk ke sekolah umum favorit daripada ke pondok pesantren. Anggapan tersebut harus diperbaiki karena menuntut ilmu agama sama sekali tidak merugikan.
Salah satu keuntungan nyata menguasai ilmu agama di dunia adalah seseorang tidak akan mudah dibodohi atau ditipu. Di Indonesia, sering bermunculan aliran sesat, nabi palsu, hingga pihak yang mengaku sebagai malaikat Jibril yang ternyata memiliki banyak pengikut. Hal ini terjadi karena minimnya pengetahuan agama pada masyarakat.
Keuntungan di Akhirat
Keuntungan di akhirat jauh lebih indah. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan jaminan kemudahan jalan menuju surga bagi para penuntut ilmu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Selain memudahkan jalan masuk surga, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Derajat orang saleh yang memiliki banyak ilmu akan lebih tinggi dibandingkan orang saleh yang minim ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)
Orang tua harus menyadarkan diri dan anak-anak bahwa belajar ilmu agama adalah kewajiban yang mendatangkan keberuntungan mutlak. Setiap perkara yang diwajibkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pasti mengandung hikmah dan manfaat bagi hamba yang menjalankannya. Belajar ilmu agama merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Kedua: Menanamkan Nilai-Nilai Keimanan
Selain menjelaskan keutamaan ilmu, poin kedua dalam memenuhi hak belajar anak adalah menanamkan nilai-nilai keimanan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendidik para sahabat kecil dengan menanamkan iman sebelum mereka mempelajari Al-Qur’an secara mendalam. Sahabat Jundub bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu menceritakan pengalamannya:
كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا
“Dahulu kami bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat kami masih anak-anak yang mendekati baligh. Kami belajar keimanan sebelum belajar Al-Qur’an. Setelah itu baru kami belajar Al-Qur’an, sehingga iman kami pun semakin bertambah kuat.” (HR. Ibnu Majah)
Maksud dari mempelajari iman sebelum Al-Qur’an adalah menanamkan nilai-nilai dan ajaran yang terkandung di dalamnya. Sebelum anak diajarkan cara membaca Al-Qur’an secara teknis, mereka perlu diperkenalkan pada hakikat ajaran Islam. Secara garis besar, ajaran Al-Qur’an mencakup tiga hal utama yang harus diajarkan sesuai dengan level usia anak:
- Akidah: Mengenalkan anak kepada pencipta-Nya. Orang tua dapat berdialog dengan anak mengenai siapa yang menciptakan alam semesta, siapa yang memberikan rezeki, serta menjelaskan tentang kehidupan setelah mati, seperti adanya alam akhirat, surga, dan neraka.
- Ibadah: Mengenalkan tata cara menghamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ibadah yang paling pokok dan utama untuk diajarkan sejak dini adalah shalat.
- Akhlak: Menanamkan karakter mulia, seperti kejujuran, kerendahan hati, serta tutur kata yang santun.
Proses pengajaran nilai-nilai ini dilakukan melalui dua cara, yaitu lisan dan perbuatan. Secara lisan, orang tua dapat mengajak anak berdialog secara aktif. Misalnya, saat melihat keindahan alam, orang tua dapat mengaitkannya dengan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Secara perbuatan, keteladanan adalah kunci utama. Orang tua harus menjadi sosok yang memberikan contoh langsung dalam beribadah dan berperilaku. Selain orang tua, faktor guru di sekolah juga sangat menentukan. Guru adalah sosok yang akan dipercaya dan ditiru oleh anak. Oleh karena itu, pemilihan lembaga pendidikan menjadi sangat penting. Karakter dan cara bertutur kata seorang guru akan sangat mempengaruhi perkembangan perilaku anak. Jika seorang guru terbiasa menggunakan kata-kata kasar, dikhawatirkan anak didik akan meniru kebiasaan buruk tersebut.
Perilaku anak merupakan cerminan dari apa yang ia lihat pada orang dewasa di sekitarnya. Jika seorang guru mengajar sambil merokok, anak akan cenderung meniru perbuatan tersebut dan menganggapnya sebagai hal yang dibenarkan. Oleh karena itu, mengajarkan adab, akidah, dan ibadah tidak cukup hanya melalui lisan, tetapi harus melalui keteladanan yang nyata.
Orang Tua sebagai Teladan Utama
Tahap paling utama dalam mengajarkan shalat kepada anak adalah dengan memberikan contoh. Orang tua adalah sosok pertama yang dilihat oleh anak. Saat anak mulai mampu melihat, hal pertama yang sebaiknya ia saksikan adalah orang tuanya yang sedang mendirikan shalat. Begitu pula saat anak mulai mampu mendengar, suara pertama yang sebaiknya ia tangkap adalah lantunan Al-Qur’an dari bapak dan ibunya.
Kalimat yang keluar dari lisan orang tua haruslah bahasa yang halus dan ucapan yang sopan, bukan kata-kata kasar atau kotor. Orang tua hendaknya menjauhi perilaku menggunjing agar anak tumbuh dengan karakter yang baik.
Ketiga: Mengajarkan Membaca Al-Qur’an,
Sesuai dengan praktik Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, setelah menanamkan keimanan, tahap berikutnya adalah mengajarkan membaca Al-Qur’an. Prioritas utama dalam pengajaran ini adalah surat yang wajib dibaca saat shalat, yaitu surah Al-Fatihah. Hal ini dikarenakan membaca Al-Fatihah merupakan rukun shalat yang menentukan sah atau tidaknya ibadah tersebut. Sangat dianjurkan bagi orang tua untuk menjadi pihak yang pertama kali mengajarkan surah Al-Fatihah kepada anaknya. Dengan demikian, setiap kali anak tersebut melaksanakan shalat dan membaca Al-Fatihah sepanjang hidupnya, pahala tersebut akan terus mengalir kepada orang tuanya.
Setelah surah Al-Fatihah, pengajaran dilanjutkan dengan surat-surat pendek yang ada di dalam Juz Amma (Juz 30). Meskipun secara urutan mushaf setelah Al-Fatihah adalah surah Al-Baqarah, namun demi kemudahan praktis dalam shalat, anak diajarkan surat yang sering dibaca seperti surah An-Nas dan surat lainnya di bagian akhir Al-Qur’an.
Penting bagi orang tua untuk memastikan kualitas bacaan anak sejak dini. Pengajaran harus memperhatikan makhraj, tajwid, serta panjang dan pendeknya bacaan dengan benar. Mengubah hafalan yang terlanjur keliru jauh lebih sulit daripada mengajarkan bacaan yang benar sejak awal. Oleh karena itu, orang tua pun perlu terus memperbaiki bacaannya, salah satunya melalui program tahsin, agar dapat membimbing anak-anak dengan kualitas bacaan yang tepat dan sesuai kaidah.
Setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, hendaknya memiliki semangat untuk terus memperbaiki bacaan Al-Qur’an tanpa merasa gengsi atau malu. Program tahsin yang tersedia, baik untuk ibu-ibu pada pagi hari maupun bapak-bapak pada hari Selasa dan Kamis setelah waktu Zuhur atau Asar, merupakan sarana yang sangat penting. Fokus utama pembelajaran dimulai dari surah Al-Fatihah karena kedudukannya yang sangat vital dalam ibadah.
Rasa malu tidak seharusnya menghalangi seseorang untuk belajar agama, meskipun ia sudah menyandang gelar haji atau sudah berusia lanjut. Seseorang tidak boleh merasa cukup hanya dengan membaca Al-Qur’an melalui teks latin. Rasa malu yang benar adalah jika seseorang melakukan kemaksiatan, bukan saat menuntut ilmu. Apabila orang tua merasa belum memiliki kemampuan yang cukup untuk mengajar anak secara langsung, mereka wajib meminta bantuan kepada pihak yang ahli. Beberapa langkah yang dapat diambil adalah:
- Memilih sekolah yang memiliki guru Al-Qur’an dengan kompetensi bacaan yang bagus.
- Mendaftarkan anak ke Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di masjid.
- Mengundang guru mengaji secara privat ke rumah.
Penting bagi orang tua untuk senantiasa memuliakan guru yang telah mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak mereka. Hal ini merupakan bagian dari upaya memenuhi hak belajar anak dan memberikan motivasi terbaik bagi perkembangan spiritual mereka.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari simak dan download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56170-memenuhi-hak-belajar-anak-dan-memberikan-motivasi/